Jumat, 09 November 2012
Jampi Tolak Bala
Kamis, 30 Juni 2011
Ini Sudah Senja
Aku ingin berlari
menembus ruang dan waktu
ke masa dimana aku belum berdosa – kembali
ke masa lampau sebelum bersalah – aku
ke zaman saat aku masih putih dan suci
Aku ingin jarum jam – memutar
searah pergerakan orang yang thawaf
balik peristiwa untuk meremaja kembali – Memutar
Berputar mundur menuju kanak kanak tanpa khilaf
hingga tenggelam jauh menjadi bayi suci yang tawar
Untuk menghapus garis
yang tergores dalam lembaranku
Tapi --Penghapus seperti apa??
Garis itu terlalu banyak dan mengotori
lemabaran yang dulu putih.
Aku berpikir untuk merobeknya
agar aku tak punya coretan kotor
Haruskah Kurobek? Lalu
Tapi aku tak akan punya lembaran sama sekali.
Akupun tak tahu apakah Tuhan mau memberikanku
selembar yang baru – lagi
Beri aku hembusan sejuk
mentari nan hangat
pijakan kuat
pegangan yang kokoh
dan selembar putih yang baru
Aku ingin menulis sekali lagi.
(Sirami aku dengan cahaya surgaMu, izinkan aku tumbuh sekali lagi)
Teman Saya Belum Datang Juga
sendirian.
Seorang cleaning service berdiri
tepat
di sebelah kanan saya.
Tangan kanannya memegang kain lap
sedangkan
yang satunya memegang botol
berisi cairan pembersih yang saat ini
ia pergunakan untuk menyemprot
pintu kaca otomatis-yang belum menyala.
Sesekali ia melirik ke arah saya.
Mungkin heran seorang pemuda duduk
di seberang tangga berjalan yang masi mati
tanpa
seorang teman.
Saat ini saya memang sendirian
namun
tidak lama lagi tidak akan.
Saya d sini
di lantai satu
plasa jembatan merah
di tempat yang kamu janjikan.
Iya, kamu.
Kamu yang sedang membaca tulisan ini.
Minggu, 19 Juni 2011
Saya Telah Merasa Haus Saat ini
Saat ini saya memang tidak haus
tapi
suatu saat tentu saya akan kehausan dan membutuhkan air itu
untuk saya minum,
tapi
kamu
telah meminumnya.
Saya tahu kamu telah salah
dan
sayapun menyadari bahwa mungkin
kamu tidak sengaja meminumnya.
Saya teman kamu karena
kamu telah menjadi teman saya sedari dulu.
Teman, air itu milik saya
dan
kamu terlanjur meminumnya.
Air itu telah terkurung di lambungmu
sebelum merambat di ususmu.
Walau Tuhan telah memberikan segelas yang baru,
air yang kini telah kau kencingkan itu
adalah air saya yang dulu sangat jernih
yang seharusnya saya minum
saat
saya merasa haus seperti sekarang.
Aku Telah Kaubuang
Mengerenyit karena heran,
memudar karena rasa sakit,
tersenyum mungkin pasrah.
Menengadah seraya menunduk adalah ketidakmungkinan yang menjadi misteri.
Apa wajahku terlalu rumit untuk sulit diingat?
Hanya ingin memulai untuk untuk tersenyum bersama,
tertawa dan bahagia hingga uban memenuhi bulu.
Apa itu salah?
Memekarkan hati dengan kebahagiaan yang memang didamba?
Kini terlunta,
menyeret ke dalam perih,
tertusuk anak panah yang salah, dan terlalu dalam.
Apakah salah?
Saat bisa menciumi bahagia yang sekejap hadir karena senyuman,
belaian
serta
genggaman hangatnya tangan.
Lalu kini?
Sekilat itu semua meninggalkanku dalam jiwa yang telah dirajam iblis cinta.
Rohku melayang,
ditawan amukan sakit yang merajai hati.
Serambi suci telah dikosong paksa
oleh
cahaya merah yang berbayang dalam naungan.
Jikapun itu emas atau cinta,
aku tetap tertindih sakit yang abadi.
Mengapa harus ada awalyang manis sementara
kini aku disuguhkan akhir yang hanya terus menunyah pilu?